Tampilkan postingan dengan label Bola Mancanegara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bola Mancanegara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 September 2021

6 Pemain Sepak Bola Era 90-an yang Bakatnya Sulit Terlahir Kembali

Sepak bola era 1990-an melahirkan banyak bintang unik. Di antara mereka ada seorang kiper yang ahli mencetak gol tendangan bebas, Jose Luis Chilavert. Ada pula pemain dengan karakter campuran penyerang sekaligus playmaker, seperti Roberto Baggio. Bek yang anti tackle, Paolo Maldini, masuk dalam daftar pemain unik ini.

6 Pemain Sepak Bola Era 90-an yang Bakatnya Sulit Terlahir Kembali

Jose Luis Chilavert 

Kiper bernama lengkap Jose Luis Felix Chilavert Gonzalez ini lahir di Luque, Paraguay pada 27 Juli 1965. Sepanjang kariernya, Chilavert lebih banyak menghabiskan waktu di klub-klub Amerika Selatan. Namun, dia pernah tampil untuk Real Zaragoza, tim Liga Spanyol, dan Strasbourg, tim Liga Perancis.

Chilavert punya keunikan tersendiri. Dia memang penjaga gawang yang hebat. Tetapi, ini dikombinasikan dengan kemampuan tendangan bebasnya yang luar biasa. Di level internasional, bersama timnas Paraguay, dia mampu mencetak 8 gol dalam 74 penampilan.

Gol internasional terakhir Chilavert terjadi pada 7 Oktober 2001. Ketika itu Paraguay bermain imbang 2-2 dengan Agentina di kualifikasi Piala Dunia 2002. Sementara di level klub, Chilavert membantu Strasbourg meraih gelar Coupe de France 2001. Dia adalah eksekutor terakhir timnya yang menang 5-4 dari Amiens.

Roberto Baggio


Berjuluk Il Divin Codino, Roberto Baggio adalah salah satu pemain terbaik Italia di generasinya. Sosok kelahiran Caldogno, 18 Februari 1967 ini, memang unik. Posisi asli Baggio adalah gelandang serang. Ia bisa diposisikan sebagai penyerang atau juga second striker.

Sepanjang kariernya, Robero Baggio mencetak 291 gol dalam 643 penampilan. Jumlah ini unik, karena 'terlalu banyak' untuk ukuran gelandang serang seperti Baggio. Oleh karenanya, legenda Perancis, Michel Platini menyebut, Baggio adalah nomor 9 1/2. Maksudnya, Baggio bukan striker atau nomor 9 murni, tetapi punya ketajaman di atas pemain nomor 10 pada umumnya.

Roberto Baggio memang pernah gagal mengeksekusi penalti dalam final Piala Dunia 1994 ketika Italia kalah dari Brasil. Namun, dia dikenal sebagai ahli bola mati. Baggio mencetak 85 persen dari total eksekusi penalti yang ditugaskan kepadanya. Total, dia mencetak 108 gol dari titik penalti, atau hanya meleset 19 kali.

Bukan cuma spesialis tendangan jarak 12 meter, Baggio juga andal urusan tendangan bebas.
Selain itu, Roberto Baggio adalah satu-satunya pemain Italia yang bisa mencetak gol di 3 Piala Dunia. Dia melakukannya di Italia 1990, Amerika Serikat 1994, dan Perancis 1998. Total, Baggio mengemas 9 gol di Piala Dunia. Jumlah ini sama dengan legenda Paolo Rossi dan penyerang Christian Vieri.

Zinedine Zidane


Seiring dengan perkembangan sepak bola yang makin modern, sosok playmaker alias pembagi bola semakin sedikit. Padahal, hingga era 1990-an, sosok semacam ini bertebaran dengan kualitas istimewa. Misalnya, Zinedine Zidane yang jadi legenda Juventus dan Real Madrid.

Pemain bernama lengkap Zinedine Yazid Zidane ini punya visi bermain yang luar biasa. Dia bisa membaca arah permainan. Umpan-umpan akuratnya adalah film horor untuk lini pertahanan lawan. Skill individualnya juga ampuh. Kaki kanan dan kiri Zidane sama baiknya.

ESPN melabeli pria yang akrab dipanggil Zizou ini sebagai jenius. Faktanya memang demikian. Meski seorang gelandang, Zidane mencetak banyak gol penting bagi timnya pada saat krusial. 

Misalnya, dia membobol gawang Brasil dua kali di final Piala Dunia 1998. Zizou juga mencetak gol kemenangan Real Madrid atas Bayer Leverkusen di final Liga Champions 2002, melalui tendangan voli cantik.

Zidane banyak mendapatkan penghargaan individual, di antaranya, Pemain Terbaik Dunia FIFA pada 1998, 2000, dan 2003. Ia juga pernah meraih Ballon d'Or 1998. Legenda Perancis, Michel Platini berkata, "Tidak ada pemain yang bisa menyamainya jika berkaitan dengan mengontrol atau menerima bola."

Pep Guardiola


Seperti Zidane, sebelum sukses dalam karier sebagai pelatih, Josep Guardiola terlebih dahulu menorehkan nama sebagai pemain pro. Bakatnya ditemukan langsung oleh Johan Cruyff, legenda sekaligus peletak dasar "tiki-taka" Barca.

Bejo Tiada Tara, [26.09.21 13:54]
Dalam sebuah sesi latihan, Guardiola ditempatkan oleh Cruyff di posisi pivot (gelandang jangkar). Posisi itu jarang dipakai oleh tim Spanyol era tersebut. Namun, Guardiola dalam sekejap membuktikan kemampuannya. Ketika dipromosikan ke tim utama, Guardiola termasuk dalam skuad utama Cruyff di era Dream Team Barcelona. Ia membantu Barca meraih gelar juara Liga Champions pertama pada 1992. 

Guardiola adalah salah satu dari sedikit gelandang yang mengandalkan kreativitas, teknik, visi bermain, dan kecerdasan. Dengan fisiknya yang terlihat rapuh, Pep mampu mengubur kekurangannya soal kemampuan fisik dan kecepatan. Sebaliknya, umpan-umpan akurat dan caranya memantau arus permainan, jadi inspirasi banyak pemain Barcelona setelah eranya.

Selama berkarier sebagai pemain Barcelona, Pep Guardiola mampu meraih 6 gelar Liga Spanyol dan sekali Liga Champions. Pada 2001/2002, Pep memilih hengkang ke Brescia, lalu ke Roma semusim berselang. Sempat tampil untuk Al-Ahli (Qatar), Guardiola menutup perjalanann cemerlangnya di Dorados de Sinaola, klub Meksiko.

Filippo Inzaghi


Sekilas, sosok penyerang yang lahir di Piacenza, 9 Agustus 1973 ini tampak tidak punya keistimewaan. Dari segi fisik, Filippo Inzaghi terlihat kurus dan rentan cedera. Dari segi teknik, ia juga cuma rata-rata. Inzaghi juga bukan pemain yang punya tendangan kencang, atau terlibat membantu pertahanan tim.

Namun, di balik semua kelemahan itu, Inzaghi memiliki insting mencetak gol yang sangat tinggi. Super Pippo, julukannya, unggul dalam penempatan posisi, sehingga banyak mencetak gol yang dianggap mudah. Padahal, tanpa kecerdasan tinggi, mustahil seseorang mencetak gol-gol macam itu. Dia adalah nomor sembilan tulen yang tugasnya memang cuma satu: membobol gawang lawan.

Dalam kariernya, Inzaghi bisa menjadi pemain inti di dua klub raksasa Italia, Juventus dan AC Milan. Gol-golnya berperan penting untuk trofi kedua klub tersebut. Misalnya, Inzaghi mengemas brace alias dua gol saat AC Milan mengalahkan Liverpool 2-1 di final Liga Champions 2007. 

Manajer legendaris Manchester United, Alex Ferguson, pernah mengeluhkan sosok Inzaghi. Dia berkata, "Inzaghi pasti terlahir offside". Namun, semakin banyak dibenci kubu lawan, semakin jelas pula, Filippo Inzaghi memang digdaya. Total dia mencetak 288 gol sepanjang karier.


Paolo Maldini


Pemain kelahiran 26 Juni 1968 ini layak disebut sebagai salah satu bek terbaik dalam sejarah sepak bola. Memulai karier sebagai bek kanan, Paolo Maldini lantas mendunia dengan kepiawaiannya di sektor kiri. Ketika mulai termakan usia, Maldini lantas menjadi bek tengah.

Meskipun kebanyakan bek dikenal rajin melakukan tackle, Maldini tidak demikian. Kemampuannya membaca jalannya pertandingan dan gerakan lawan, membuat Maldini tidak membutuhkan tackle. Kalimatnya yang ikonik adalah, "Jika saya harus melakukan tackle, berarti saya sudah melakukan kesalahan".

Sepanjang kariernya, sejak 1984 hingga 2009, Paolo Maldini hanya bermain untuk satu klub, AC Milan. Sang pemain yang identik dengan nomor punggung 3 ini turut merasakan naik dan turunnya prestasi Rossoneri. Maldini meraih gelar pertama di Milan saat juara Serie A pada 1987/1988.  Setelah itu, ia mendapatkan 6 scudetto tambahan, di samping 5 trofi Liga Champions.

Maldini bukan cuma ahli dalam teknik sepak bola, tetapi juga soal kepemimpinan. Dia adalah kapten AC Milan sejak Franco Baresi, bek tengah legendaris Rossoneri, pensiun pada akhir musim 1996/1997.

Ketenangan Maldini di lini belakang terbukti dengan catatannya yang cuma diberi 3 kartu merah sepanjang karier. Zlatan Ibrahimovic meluliskan, "Maldini adalah defender komplet. Dia tangguh, cerdas, dan ahli dalam penjagaan satu lawan satu."

Sabtu, 21 Agustus 2021

Berita Juventus | Jadwal & Prediksi Line up Udinese vs Juventus Liga Ita...



Prediksi Starting Line Up Udinese vs Juventus

Memasuki musim baru Seri A 2021 Juventus berharap memiliki performa yang jauh lebih baik,  setelah hanya finis di urutan keempat pada musim lalu dan otomatis berhak mendapatkan tiket Liga Champions musim ini. Massimiliano Allegri bertanggung jawab untuk membawa kembali Si Nyonya Tua kembali ke zona Juara seri A. Tiga kemenangan dalam empat pertandingan persahabatan pra-musim, menjadi modal Juve melakoni laga perdana di kandang Udinese akhir pekan ini. 

Massimiliano Allegri adalah sosok pelatih lokal Italia balik lima dari sembilan Scudetti berturut-turut Juventus, memuncaki Serie A setiap musim antara 2014/15 dan 2018/19. Dan inilah prediksi susunan pemain yang bisa dipilih Allegri di pertandingan pembuka mereka.

Posisi penjaga gawang Juventus diisi Wojciech Szczęsny (GK) - 
Ia kan terus menjadi kiper nomor satu Juve di musim berikutnya.

Pemain Impor Matthijs de Ligt akan menempati Center Bek sebelah kiri  
Center Bek sebelah kanan akan diisi pemain Timnas Senior Italia Leonardo Bonucci 

Posisi Wing Back kiri diisi pemain Timnas Brasil yang berlaga di Copa America Alex Sandro

Sementara pemilik 11 assit di Seri A musim lalu Juan Cuadrado menempati wing back kanan.

Tiga pemain tengah Juventus akan diisi sosok yang menonjol di musim lalu  Rodrigo Bentancur ditemani pemain yang diboyong Allegri pada tahun 2017 Federico Bernardeschi dan Aaron Ramsey. 

Trio lini serang ganas Juventus akan ditempati 2 pemain impor dan 1 talenta lokal, Yakni Federico Chiesa di Sayap Kiri, Cristiano Ronaldo di sayap kanan dan posisi Striker akan ditempati pemain Argentina Paulo Dybala.

Secara Head to Head, dari tiga pertemuan terakhir Juventus lebih unggul dari Udinese.
Menang dua kali di tahun 2021 dan kalah satu kali di tahun 2020.

Minggu, 09 Februari 2020

JADWAL LIGA INGGRIS MALAM INI PEKAN 26 DAN KLASEMEN SEMENTARA MUSIM 2019-2020

JADWAL LIGA INGGRIS MALAM INI PEKAN 26 DAN KLASEMEN SEMENTARA MUSIM 2019-2020


Liverpool memperlebar jarak dan makin menjauh dari para pesaingnya di Liga Inggris 2019/20. Memimpin di puncak klasemen, tim Mohammed Salah itu kini unggul 22 poin dari Manchester City yang berada di posisi kedua.

JADWAL LIGA INGGRIS MALAM INI PEKAN 26 DAN KLASEMEN SEMENTARA MUSIM 2019-2020


Liverpool melakoni laga away di Liga Inggris pada pekan ke-26. Pekan ini, the Reds  akan dijamu Norwich City di Stadion Carrow Road.

Walaupun berstatus sebagai tim tamu, peluang Liverpool memenangi laga ini tetap terbuka mengingat tren bagus mereka belakangan ini. Itu mereka buktikan saat menghajar Southampton 4-0 akhir pekan lalu. Satu laga big match panas di pekan ke-26 Liga Inggris adalah kala Chelsea bertemu Manchester United. Pertandingan ini akan dimainkan di kandang The Blues, Stadion Stamford Bridge, London.

Berikut jadwal lengkap pertandingan liga Inggris Pekan 26 live Mola TV dan TVRI.



Jadwal liga Inggris hari Sabtu, 8 Februari 2020
Everton vs Crystal Palace (Mola TV)

Jadwal liga Inggris hari Ahad, 9 Februari 2020
Brighton vs Watford (Mola TV)
Sheffield vs Bournemouth (Mola TV)
Man City vs West Ham (TVRI)


Jadwal Liga Inggris Sabtu,15 Februari 2020
Wolverhampton vs Leicester (Mola TV)
Southampton vs Burnley (Mola TV)

Jadwal Liga Inggris Ahad, 16 Februari 2020
Norwich vs Liverpool (TVRI)
Aston Villa vs Tottenham (TVRI)
Arsenal vs Newcastle (Mola TV)

Jadwal Liga Inggris Selasa, 18 Februari 2020
Chelsea vs MU (Mola TV)

Rabu, 15 Januari 2020

JADWAL LIGA INGGRIS MALAM INI PEKAN 23 DAN KLASEMEN SEMENTARA MUSIM 2019/ 2020

Liga Inggris pekan 23 akan kembali mulai dimainkan akhir Minggu ini 18-19 Januari 2020. Pekan ini akan menjadi Match day yang dinantikan para fans setia Liverpool dan Manchester United di Indonesia. Sesuai jadwal laga super big match ini akan digelar Ahad 19 Januari 2020 Pukul 22.00 wib live di TVRI. Berikut jadwal lengkap pertandingan liga Inggris Pekan 23 live Mola TV dan TVRI.




Jadwal liga Inggris hari Sabtu 18 Januari 2020:
Pukul 19.00 WIB, Watford vs Tottenham (Live Streaming Mola TV)
Selanjutnya pukul 22.00 WIB, Arsenal vs Sheffield United (Live Streaming Mola TV)
Brighton vs Aston Villa (Live Streaming Mola TV) pukul 22.00 WIB
Southampton vs Wolverhampton (Live Streaming Mola TV) pukul 22.00 WIB
Norwich city vs Bournemouth (Live Streaming Mola TV) pukul 22.00 Wib
West Ham vs Everton (Live Streaming Mola TV) pukul 22.00 Wib
Manhester City vs Crystal Palace (Live Streaming Mola TV, TVRI) pukul 22.00 Wib


Satu hari berikutnya ini Jadwal liga Inggris hari Sabtu 18 Januari 2020:
Pukul 00.30 WIB, Newcastle vs Chelsea (Live Streaming Mola TV)
Pukul 21.00 WIB, Burnley vs Leicester (Live Streaming Mola TV)
Pukul 23.30 WIB, Liverpool vs Manchester United (Live Streaming Mola TV, TVRI)
Berikut Klasemen sementara Liga Inggris Pekan 22

Rabu, 08 Januari 2020

Kisah Fillipo Selalu Lolos dari Jebakan Offside, Keterpurukan AC Milan yang Tak Kunjung Berakhir, Hingga Masa Terindah Torres Bermain Bersama Gerrard

Fillipo Inzaghi, Si Penghancur Jebakan Offside

Dalam dunia persepakbolaan, ada banyak tipe striker handal, akan tetapi Filippo Inzaghi adalah salah satu tipe striker yang akan selalu dikenang oleh para sepak bola. Jika disejajarkan dengan maestro dribble Cristiano Ronaldo, si tendangan geledek Gabriel Batistuta, si pelari cepat Andriy Shechenko dan si penyundul maut Olivier Bierhoff, Fillipo terlihat seperti stiker tanpa kemampuan khusus.


Sundulan kepala atau tendangannya tampak biasa saja, terlebih lagi giringan bolanya. Tapi, ada satu yang membuatnya memiliki terlihat begitu menarik dan bahkan keunggulan ini tak dimiliki oleh semua striker terkenal di atas. Apakah keistimewaan tersebut?

Keahliannya ialah meloloskan diri dari jebakan offside.
“Pemain itu pasti lahir dalam posisi offside.” Ujar Sir Alex yang kala itu baru mengetahui jika Filippo Inzaghi merupakan striker yang paling sering offside dalam sejarah persepakbolaan dunia. Menariknya, Fillipo juga kerap menipu barisan pertahanan lawan serta melepaskan diri dari perangkap offside sebelum menyerang pertahanan lawan.


Keahlian unik yang dimiliki Fillipo ini bisa dilihat di salah satu pertandingan terbaiknya, yakni ketika ia mencetak gol pada gawang Bayern Munchen di Liga Champions 2006/07. Saat Clarence Seedorn mengumpan tanpa aba-aba, Inzaghi mampu lepas dari jebakan offside kemudian berlari menuju gawang Munchen dan melakukan finish yang sempurna untuk klubnya. Selain dikenal sebagai pemain yang ampuh lolos dari jebakan offside, Fillipo juga dianggap sebagai Dewi Fortuna atau dewi keberuntungan bagi tim-timnya, karena mampu memasukkan gol-gol cantik yang tak terduga.

Salah satu gol keberuntungan Fillipo yang sangat dikenal oleh public yakni ketika ia berlaga melawan Liverpool dan mencetak golnya. Pertandingan di final Liga Champions 2007 tersebut bermula dari tendangan bebas Andrea Pirlo yang membentur tubuh Inzaghi sehingga arah bola berubah menuju gawang.

Terlepas dari keberuntungan-keberuntungannya, mantan striker AC Milan dan Juventus ini termasuk salah satu pemain paling mematikan di kotak penalti lawan. Ia sudah mencetak 288 gol cantik selama 623 pertandingan sepanjang kariernya. Striker handal ini mulai dikenal sejak di Atalanta, Inzaghi semakin melebarkan sayap dengan menunjukkan tajinya. Selama 4 musim mengenakan kostum La Vecchia Signora, ia berhasil menorehkan 58 gol.

Sementara ketika di AC Milan, pemain dengan julukan Super Pippo ini bertahan 11 musim dan menjadi kontributor dari kesuksesan Rossoneri dalam mendulang Liga Champions. Koleksi trofi yang sudah dikumpulkannya pun layak membuat Inzaghi berbangga diri, ia telah berhasil memenangi Serie A sebanyak 3 kali, Liga Champions 2 kali, Super Eropa 2 kali, Coppa Italia 1 kali, dan juga piala dunia antar klub 1 kali bersama dengan tim nasional Italia. Ia ikut mengantarkan Gli Azzurri sebagai juara Piala Dunia 2006. Hingga saat ini. Fillipo masih menjadi striker dengan kemampuan terbaik dalam meloloskan diri dari jebakan offside.


AC Milan Terus Terpuruk, Van Basten Merasa Sedih
Sampai saat ini, AC Milan belum juga menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Beragam cara telah dilakukan, hingga merekrut 11 pemain baru sekaligus pelatih baru, namun perubahan belum juga tampak di tubuh AC Milan. Setelah menjuarai Serie A 2010-2011, Milan memang tampak kekeringan prestasi. Bersama dengan ditinggalnya sejumlah pemain andalan dan Massimilliano Allegri pun menjadi penyebab lain terpuruknya AC Milan.


Sejatinya, tim pengoleksi tujuh gelar Liga Champions ini sudah banyak melakukan upaya untuk kembali mendulang prestasi. Sebelumnya Gennaro Gattuso, sudah ada 5 pelatih yang mencoba peruntungan membangkitkan Milan. Pemain-pemain handal dari berbagai penjuru dunia pun sudah direkrut.

Bahan di musim panas 2017 lalu, Milan sudah menghabiskan lebih dari 200 juta Euro hanya untuk mendatangkan pemain anyar. Sayang, keberuntungan belum berpihak pada tim ini. Pada musim 2017/2018 Milan bahkan hanya bisa finish di urutan keenam klasemen Serie A dan berhenti di 16 besar Liga Eropa. Di tahun yang sama Milan juga hanya bisa menjadi runner-up Coppa Italia.

“Terkait dengan waktu saja disana, banyak hal yang telah berubah di Milan dan saya menyesal telah melihatnya. Milan saya adalah Itala, dengan Silvio Berlusconi, kami bertiga dari Belanda, dan skuad yang bagus. Sekarang pemiliknya orang China, saya tak mengenalnya, dan tim itu tak seperti 30 tahun lalu.” Ujar Marco Van Basten dikutip di Football Italia.

Bersama Ruud Gullit, Van Basten sendiri pernah mengalami masa kejayaan di Milan. Ia berhasil mencetak 125 gol dan berhasil membawa Rossoneri memenangkan tiga gelar Serie A, Liga Champions, Coppa Italia serta dua Piala Super Eropa dan dua piala Interkontinental.

“Sayangnya level itu telah mengalami banyak penurunan dan ada risiko besar keluar dari kompetisi Eropa. Ini menyakitkan bagi saya untuk berpikir bahwa Milan dan Inter adalah Real Madrid dan Atletico (Madrid) saat ini.” ungkapnya Van Basten. “Saat ini Milan adalah metamorfosa krisis di sepak bola Italia. Mengapa? Yang lain memiliki banyak uang dan lebih konsisten, sederhana. Karena waktu saya di Italia, banyak hal telah terjadi dan mereka tak kunjung positif.” Tambahnya.

Momen Terindah Torres: Duet Bersama Gerrard
Begitu banyak momen indah yang telah ditorehkan Fernando Torres selama karirnya, namun bermain bareng Steven Gerrard merupakan yang terindah bagi Torres. Pemain yang telah mengumumkan pensiun pada pertengahan tahun 2019 ini menghabiskan masa kariernya di banyak tim papan atas, seperti Liverpool, Atletico Madrid, Chelsea dan kembali ke Los Colchoners sebelum menutup kariernya bersama Sagan Tosu di Jepang.



Terkait kariernya, Torres tak memungkiri jika masa-masa di Liverpool memiliki keistimewaan tersendiri. Apalagi ia bisa bermain bareng Gerrard yang dianggap sangat mengerti gaya permainannya sehingga bisa saling melengkapi. Kala itu Gerrard merupakan pemain gelandang serang yang posisinya di belakang Torres sebagai striker tunggal pada formasi 4-2-3-1. Meski tak pernah meraih trofi ketika bermain di Liverpool, akan tetapi disanalah ia mendapatkan puncak kariernya jika dilihat dari segi permainan. Torres menjadi penyerang mematikan di Eropa bersama  The Reds seta berhasil menorehkan 81 gol dari 142 laga yang diikutinya.

“Saya selalu mengatakan bahwa pemain terbaik yang pernah menjadi rekan setim adalah Steven Gerrard. Dia adalah pemain yang membuat saya bisa tampil maksimal. Level dimensi permainan saya menjadi berbeda ketika dia berada di lapangan.” Ujarnya di situs resmi Liverpool. Ia juga berharap bisa mengulangi masa-masa indah tiga setengah tahun bermain bersama Steven walaupun hanya semenit. “Tiga setengah tahun yang lalu bisa bersama Steven. Saya akan sangat senang jika bisa kembali ke masa-masa itu, walau hanya satu menit.” Imbuhnya.

Striker mematikan ini memang terlihat begitu kompak dengan Steven di setiap pertandingannya. Hal ini bukan hanya bisa dilihat dari hasil pertandingannya saja, dimana Liverpool banyak mendulang kemenangan. Akan tetapi juga kekompakan selama berlaga di lapangan.

Roberto Carlos dan Gol Tendangan Bebas yang “Melawan” Hukum Fisika

Roberto Carlos adalah salah satu legenda sepak bola dari Brasil. Sosok yang berposisi sebagai bek kiri ini ahli dalam urusan tendangan bebas. Salah satu golnya yang paling berkesan adalah gol tendangan pisang saat Brasil melawan Perancis di Tournoi de France 1997.



Sejarah Singkat Karier Roberto Carlos

Roberto Carlos yang bernama lengkap Roberto Carlos da Silva Rocha, lahir di Garca, Sao Paulo, Brasil pada 10 April 1973. Ia diberi nama Roberto Carlos karena sang ayah adalah fans penyanyi kenamaan Brasil yang berjuluk Raja Musik Latin, Roberto Carlos Braga.

Karier sepak bola Roberto Carlos dimulai sejak ia membela tim junior klub lokal, Uniao Sao Joao. Di klub tersebut, dia sudah berposisi sebagai bek kiri. Penampilan Carlos yang bagus, membuatnya dipanggil untuk memperkuat Tim nasional Brasil U-20.

Pada Agustus 1992, dalam usia 19 tahun, Roberto Carlos dipinjam oleh Atletico Mineiro. Tidak hanya itu, dia turut diangkut dalam tur klub tersebut ke Eropa. Tur ini istimewa untuk pemain-pemain muda, karena mereka diberi kesempatan bermain agar bisa bersaing ke tim utama. Sementara, para pemain inti Atletico Mineiro fokus ke Copa CONMEBOL yang digelar dalam waktu bersamaan.

Awalnya, saat tur tiba di Italia, Roberto Carlos tidak dilibatkan. Hasilnya, Atletico Mineiro kalah dari Lazio dan Torino. Namun, saat tur berpindah ke Spanyol, Carlos diberi kesempatan. Ia tampil penuh selama 90 menit melawan Lleida. Berikutnya, Carlos kembali bermain saat Atletico Mineiro berjumpa Logrones dan Athletic Bilbao.





Belakangan, setelah pensiun, Roberto Carlos menyebut, tur pada 1992 itu berpengaruh besar dalam kariernya. Berkat tur tersebut, jalan sang bek kiri untuk berkarier di Eropa mulai terbuka. Tapi, untuk terjun di ketatnya kompetisi Eropa, Carlos mesti menunggu lebih lama. Pada 1993, dia bergabung dengan klub Brasil lain, Palmeiras, dan menghabiskan waktu dua musim.

Setelah memberikan gelar juara Serie A Liga Brasil dua kali beruntun untuk Palmeiras, Roberto Carlos akhirnya meninggalkan Brasil. Dia sebenarnya punya opsi bergabung dengan Aston Villa. Namun, Carlos memilih Inter Milan, klub raksasa Serie A Liga Italia yang sedang menjulang.

Roberto Carlos menjalani debut bersama Inter dengan cara luar biasa. Dia langsung mencetak gol kemenangan Nerazzurri atas Vicenza dari tendangan bebas berjarak 30 meter. Meski debutnya bagus, Carlos hanya bertahan semusim di Inter. Dia punya masalah dengan pelatih saat itu, Roy Hodgson, yang menginginkan Carlos bermain sebagai sayap kiri, bukan bek kiri.

Tawaran berikutnya datang dari Real Madrid. Klub ibukota Spanyol itu menjadi klub terlama yang dibela oleh Roberto Carlos. Dia bertahan di Madrid selama 11 musim, sejak 1996 hingga 2007.
Roberto Carlos menemukan masa-masa keemasannya di Real Madrid. Dia bahu-membahu dengan para bintang lain yang dibeli satu demi satu oleh presiden klub, Florentino Perez. Mulai dari Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo, David Beckham, sampai Sergio Ramos.

Dengan menumpuk bintang, Real Madrid jadi raja Eropa. Mereka meraih gelar Liga Champions pada 1998, 2000, dan 2002. Carlos selalu tampil dalam laga final kompetisi tersebut. Dia turut andil dengan menciptakan assist untuk gol tendangan voli Zinedine Zidane di final Liga Champions 2002 melawan Bayer Leverkusen.

Tidak cuma membawa Madrid berjaya di level benua, Roberto Carlos juga membuat tim yang bermarkas di Santiago Bernabeu sukses di level domestik. Madrid mendapatkan 4 gelar Liga Spanyol dan 3 gelar Piala Super Spanyol selama Carlos menempati posisi bek kiri. Total di Madrid, Roberto Carlos mencetak 67 gol dalam 512 penampilan di semua kompetisi.

Setelah kontrak Roberto Carlos di Real Madrid berakhir, ia mulai berkelana ke berbagai klub di mancanegara. Usianya juga sudah tidak muda lagi. Dalam usia 34 tahun, ia bergabung ke Fenerbahce (Turki). Carlos sempat pulang ke Brasil untuk bermain di Corinthians.

Carlos menjajal karier kepelatihan dengan menangani Sivasspor (Turki), Akhisar Belediyespor (Turki), dan Delhi Dynamos (India). Di Delhi

Dynamos, ia menjabat sebagai pelatih sekaligus pemain, sebelum benar-benar pensiun dari sepak bola profesional pada 2015.

Tendangan Bebas yang Melengkung Bagai Spiral

Sepanjang kariernya, Roberto Carlos banyak menuai pujian. Legenda Brasil, Pele, memasukkannya dalam FIFA100, daftar pemain terbaik dunia sepanjang masa. Selain itu, mantan pelatih Real Madrid dan timnas Spanyol, Vicente Del Bosque pernah berkata, Carlos punya kemampuan untuk menguasai seluruh areal kiri timnya, baik dalam urusan menyerang maupun bertahan. Rata-rata kecepatan Carlos adalah 10,6 detik untuk lari 100 meter.

Yang paling penting, Roberto Carlos dikenal sebagai ahli tendangan bebas. Dia sering menciptakan gol tendangan bebas dengan ciri khas tembakan kencang bagai roket. Berdasarkan berbagai penelitian yang dikutip The Guardian, rata-rata tendangan bebas Carlos berkecepatan 105 mph atau 169 km per jam. Inilah alasan Carlos dijuluki El Hombre Bala alias Manusia Peluru.

Momen paling dahsyat yang pernah diciptakan Carlos untuk urusan tendangan bebas adalah saat Brasil melawan Perancis di Tournoi de France 1997.

Pertandingan Brasil kontra Perancis itu terjadi tepatnya pada 3 Juni 1997 di Stade de Gerland, Lyon. Menit ke-21, Brasil mendapatkan hadiah tendangan bebas berjarak 35 meter dari gawang lawan.

Carlos melepaskan tembakan yang seakan bakal melenceng di sisi gawang Perancis yang dikawal Fabian Barthez. Anak gawang yang ada di belakang, secara naluriah menghindar agar tidak terhantam bola. Namun, siapa yang menyangka, bola tiba-tiba melengkung mengenai tiang gawang, lantas masuk jadi gol. Barthez bahkan hanya bisa terbengong melihat kejadian tersebut.

Gol Carlos ini ramai dibicarakan, bahkan diklaim menjadi salah satu gol tendangan bebas terbaik sepanjang masa. Tidak sedikit yang menyebut, tendangan itu tidak sesuai dengan hukum fisika, karena lengkungannya tidak normal.

Namun, dalam studi ilmuwan Perancis yang dipimpin Christophe Clanet yang dipublikasikan di New Journal of Physics, ada penjelasan mengapa gol itu bisa tercipta. Secara ringkas, bola yang ditembakkan Carlos itu punya arah lintasan melengkung seperti spiral. Fakta bahwa jarak bola saat ditembakkan dengan gawang cukup jauh, yaitu 35 meter, memudahkan terciptanya arah lengkungan yang seakan tidak masuk akal.

"Jika jaraknya pendek, Anda hanya akan melihat bagian pertama dari lengkungan (arah bola), Tetapi jika jaraknya jauh seperti tendangan Carlos, Anda akan melihat bagian lengkungannya bertambah, Anda akan melihat arah lintasan bola sepenuhnya," kata Clanet dikutip BBC.

Roberto Carlos sang ahli tendangan bebas, total mencetak 102 gol dalam 820 penampilannya di level klub. Selain itu dia membukukan 11 gol lain dalam 125 pertandingan untuk timnas Brasil senior. Kini, setelah pensiun, Carlos bukan cuma menyandang gelar si manusia peluru, tetapi juga salah satu bek kiri terbaik dalam sejarah sepak bola.

Minggu, 03 November 2019

Kabar Bola Hari Ini 04 November 2019: Lionel Messi Cetak Gol Tendangan Bebas ke-50, Hazard Sulit Kesulitan Gantikan Ronaldo Hingga Kembalinya Ibrahimovic ke Spanyol

@Lionel Messi Cetak Gol Tendangan Bebas ke-50 - Halo Bolamania, salam olahraga. Bejo Tiada Tara edisi 04 November 2019 meringkas beberapa berita Sepakbola terhangat. Silahkan baca samapai tuntas.......



Lionel Messi Cetak Gol Tendangan Bebas Ke-50 dalam Liga

Pemain kelahiran Argentina, Lionel Messi kembali mengukir catatan gemilang ketika mencetak gol ke-50 dari tendangan bebas. Jumlah ini ia kumpulkan selama karirnya bersama 15 tahun bersama Barcelona. Gol yang dicetak pada 30/10 dini hari ketika Barca melawan Real Valladolid ini membuat kedudukan Barca semakin kuat di klasemen sementara. 

Sebelumnya, kapten tim Barcelona ini terlebih dahulu memberi assist pada Camp Nou dengan membantu Arturo Vidal mengubah skor menjadi 2-1. Tak tunggu lama, Messi kembali mengguncangkan Real Valladolid dengan mencetak gol ketiga untuk timnya pada menit ke-34 setelah Nelson Semedo dilanggar.

Tendangan dari jarak 30yard yang ditembakkan Messi dan berhasil mengenai pojok kanan gawang. La Pulga pun kembali mencatatkan nama di papan skor mulai dari open play, pada babak kedua sebelum menyuplai assist lain, yakni untuk Luis Suarez.

Penampilannya di babak kedua inipun banyak menuai komentar positif, terutama pada detik-detik ia melakukan assist untuk Luis Suarez. Gol dari tendangan bebas ini merupakan gol ke-100 dan 101 Messi di bawah asuhan pelatih Ernesto Valverde. Dalam 3 pertandingan terakhir, pemain 32 tahun ini telah mengumpulkan 4 gol. Perolehan ini ia dapatkan setelah sebelumnya terpaksa absen di 4 laga dari 6 laga perdana Barcelona di musim ini akibat cedera.

Perolehan gol yang fantastis dari skill Messi bahkan membuat pelatih klubnya sendiri hampir kehabisan kata-kata untuk memuji kualitas Lionel Messi. 50 gol dari 50 gol tendangan bebas yang dikumpulkan pemain dengan julukan La Pulga ini dicetak bersama Barcelona, dan 10 sisanya dicetak ketika bermain bersama tim nasional Argentina. Walau perolehan ini sudah bisa dikatakan menakjubkan, tapi angka yang diperoleh Messi masih kalah dari ex bintang Lyon Juninho Pernambucano yang berhasil mengoleksi 77 gol dari tendangan bebas serta legenda Brasil Pele yang berhasil mencetak 70 gol.

Sementara di posisi ketiga ada megabintang sepakbola lain seperti Ronaldinho yang berhasil menciptakan 66 gol bersama torehan Victor Legrottaglie. Di urutan selanjutnya, ada pemain legendaris David Beckham yang mencetak 65 gol tendangan bebas dari situasi bola mati sepanjang. Perolehan ini didapatkan Beckham selama bermain bersama Real Madrid, Macnhester United, LA Galaxy dan juga Inggris.

Para penggemar Messi pun berharap jika ke depannya bintang idealnya tersebut mampu mencetak gol tendangan bebas lebih banyak, hingga mampu menyusul beberapa nama-nama megabintang di atas.

Performa Messi yang masih stabil dirasa akan membuatnya tak kesulitan memperoleh angka yang lebih tanpa kesulitan. Bahkan digadang-gadang performa Messi yang stabil ini membuatnya berpotensi kembali mendapatkan Ballon O’rd di musim ini. Perkiraan ini semakin diperkuat dengan performa rivalnya Ronald yang belum stabil di musim ini.

 

Hazard Merasa Kesulitan Gantikan Cristiano Ronaldo di Madrid

 


Setelah pada awal musim 2019-2020 megabintang Eden Hazard pindah dari Chelsea ke Real Madrid dengan banderol yang cukup fantastis, yakni mencapai 100 juta Euro atau kira-kira Rp. 1,5 triliun, ternyata Hazard mengalami kesulitan di klub barunya ini.

Ia mengaku kesulitan menggantikan Cristiano Ronaldo di klub yang berjuluk Los Merengues ini. Hingga saat ini, pemain asal Belgia ini belum mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya di Madrid, seperti yang ia lakukan bersama The Blues. Hampir setahun lamanya, Hazard baru tampil pada 7 pertandingan di seluruh kompetisi dengan mengoleksi satu assist dan satu gol. Sementara pada tiga pertandingan awal Madrid, mantan pemain LOSC Lille ini sempat absen karena cedera yang dialaminya.

Pemain berusia 28 tahun ini diharapkan mampu menjadi pengganti ideal untuk Ronaldo yang telah berhasil memberikan banyak gol dan kemenangan bagi Madrid. Tapi Hazard mengakui, untuk menggantikan Ronaldo bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah.

“Ketika saya di lapangan, saya tidak memikirkan tentang nomor 7 yang saya miliki di punggung. Itu tidak mudah menggunakan nomor tersebut setelah Cristiano. Raul (Gonzalez) juga memakai itu.” Ungkap Hazard dikutip dari AS.

Butuh perjuangan besar bagi Hazard untuk bisa membanggakan klubnya saat ini yang sebelumnya telah memiliki megabintang sekelas Ronaldo. Meski belum bisa memberikan penampilan terbaiknya bersama klub asuhan Zinadine Zidane ini, Hazard tetap optimis mengusung target tertinggi untuk memenangkan Liga Champions. Selama karirnya bersama Chealsea pun pencapaian terbaik Hazard hanya mampu membawa klubnya menjadi semifinalis di Liga Champions. Pengalaman ini menjadikannya semakin semangat untuk mengusung klub barunya maju lebih baik dan berhasil menjuarai Liga bergengsi tersebut.

Dalam catatan karir klub, memang diketahui jika Chelsea berhasil memenangkan Liga Champions sebelum Hazard masuk, dan setelahnya The Blues belum pernah menjuarainya lagi. “Chelsea juara Liga Champions sebelum saya datang. Sulit untuk juara Liga Champions, tetapi saya disini untuk memenangi itu.” Tutur Hazard.  Pernyataan ini seakan menjadi cambuk bagi dirinya sendiri untuk menunjukkan kemampuan lebihnya di klub baru yang saat ini dibelanya, Real Madrid.  

Ibrahimovic Kembali, “Halo, Spanyol! Saya Akan Kembali.”

 


Baru-baru ini Zlatan Ibrahimovic menebak kode keras di media social pribadinya. Striker asal Swedia ini memantik spekulasi jika dirinya akan kembali lagi ke Spanyol.

Dalam unggahan video singkat di Instagram storynya, pemain berambut gondrong ini menyapa Spanyol dan mengatakan jika dirinya akan kembali.  “Halo, Spanyol! Coba tebak. Saya akan kembali.” Kata Ibrahimovic pada video yang hanya berdurasi kurang lebih 4 detik tersebut.

Selama karirnya di lapangan hijau, Ibrahimovic memang pernah merumput di Spanyol dengan memperkuat Barcelona. Kebersamaannya dengan klub yang dijunjung megabintang Lionel Messi ini memang tak lama atau hanya sekitar 1 musim pada 2009-2010 saja. 

Walau tak lama, namun selama 1 musim tersebut Ibrahimovic berhasil menyumbangkan 22 gol dalam 46 pertandingan. Perolehan ini berhasil membawa Blaugrana menjuarai Liga Spanyol. Setelah bermain bersama Barca, di musim selanjutnya Ibrahimovic dipinjam AC Milan namun eksistensinya tak segemilang saat bermain bersama Blaugrana.

Selain itu, pemain berusia 38 tahun ini pun sudah banyak berjuang dengan klub Inter Milan dan Juventus. Klub-klub besar yang telah dibelanya ini kebanyakan meraih kesuksesan ketika ia bermain di dalamnya.
Untuk saat ini, Ibrahimovic sendiri memang sudah hampir mendekati akhir dari kontrak bersama Los Angeles Galaxy. Bahkan pada Januari 2020 mendatang, Ibrahimovic akan berstatus bebas agen.

Hal ini menjadikannya lebih fleksibel untuk masuk ke klub-klub besar, namun juga tak menutup beberapa kendala mungkin akan ia alami. Mengingat persaingan pemain megabintang sepakbola tak pernah luput dari campur tangan agen terkait.

Meski demikian, namun belum ada keterangan resmi dari klub manapun terkait penggabungan Ibrahimovic dalam timnya. Para pendukungnya pun berharap jika pada musim tahun depan Ibrahimovic mampu bermain dalam tim yang ideal dan berhasil menorehkan koleksi gol cantik untuk kemenangan timnya.

Kamis, 31 Oktober 2019

Messi tidak suka diganti, Dia Lebih Suka Main dari Bangku Cadangan



@Sebuah pertandingan sepak bola memang selalu terlihat lebih menarik dan seru ketika sudah masuk ke menit-menit terakhir. Menit terakhir seakan menjadi kunci kesuksesan sebuah tim untuk meraih kemenangan.

Alasan inilah yang menjadikan megabintang sepakbola Lionel Messi tak suka jika harus melewatkan momen terbaik tersebut. Pemain yang kerap disapa Messi ini mengaku jika dirinya tak suka diganti di tengah-tengah pertandingan.

Salah satu striker terbaik dunia ini bahkan lebih suka jika dirinya main dari bangku cadangan, dari pada harus main sejak awal pertandingan dan harus keluar saat tengah-tengah permainan. Pesepakbola yang telah bermain di 800 pertandingan baik level klub ataupun internasional ini memang sama sekali tak ingin melewatkan momen berharga di menit-menit terakhir pertandingan.

Sejak mulai debutnya di tahun 2004, Messi sudha berhasil membukukkan 606  gol untuk Barcelona dan juga 68 gol untuk Timnas Argentina. Menariknya jumlah fantastis tersebut kebanyakan ia cetak pada momen terbaik pertandingan ini.

Kemampuan Messi ketika memasuki area pertahanan lawan membuatnya menjadi tumpuan pada lini depan timnya. Hingga tak heran jika Messi sellau menjadi starter pada setiap pertandingan yang ia ikuti.

Pemain yang memiliki lima Ballon d’Or ini mengatakan, momen terbaik pertandingan sepakbola selalu ada di akhir. Untuk itulah, Messi tak ska jika sampai melewatkan momen terbaik ini.“Aku tidak suka diganti, aku lebih memilih berangkat dari bangku cadangan dan bermain lebih sedikit daripada diganti.” Ujarnya pada TyC Sports yang dikutip oleh Sport.

Pernyataan tersebut tentu diutarakannya bukan tanpa alasan. Begitu banyak pembuktian yang menunjukkan jika ada banyak pertandingan selesai di akhir, atau dalam kata lain pertandingan sukses di menit-menit terakhir.

Kesempatan sukses di menit-menit terakhir ini terjadi lantaran lawan sudah lelah dan peluang untuk mematikan lawan pun menjadi lebih mudah. Baginya tak masalah harus berangkat dari bangku cadangan daripada harus bermain sejak awal namun staminanya sudah tak maksimal ketika memasuki momen terbaik tersebut.

“Aku mengatakan demikian karena banyak pertandingan selesai di akhir atau Anda menemukan lebih banyak ruang karena saat itu lawan sudah lelah. Aku lebih memilih masuk sebagai pemain pengganti dan menikmati permainan daripada diganti dan melewatkan momen terbaik.”

Di tahun 2019 ini, Messi menjalani start yang cukup terlambat akibat cedera yang dialaminya. Meski begitu, namun mega bintang ini telah mencetak 3 gol cantik plus tiga assist pada 7 pertandingan yang dilaluinya.

Pada pertandingan antara Barca dan Villarreal September lalu sayangnya Messi harus kembali mengalami cedera dan ditarik keluar. Meski begitu namun tim yang dibelanya tetap mendapat kemenangan dengan skor 2-1.

Skill Messi dalam mencetak gol memang tak perlu diragukan lagi. Bahkan pemain andalan Barca ini digadang-gadang merupakan salah satu pemain pencetak gol terbanyak sepanjang karirnya.
Tak hanya gol cantik yang mampu melumpuhkan gawang lawan. Messi juga banyak mencetak gol dari tendangan bebas yang begitu mempesona. Bahkan Messi adalah pemain dengan jumlah gol tendangan bebas terbanyak dibandingkan dengan semua tim di Eropa.

Permainan Messi yang begitu memukau memang tak hanya mampu menghipnotis para penggemarnya saja, namun juga pelatihnya sendiri. Pada pertandingan yang diselenggarakan 29 Oktober lalu di Liga SPanyol, Messi sudah bisa kembali membela timnya dan mencetak 2 gol pada kemenangan Barca-Real Valladolid 5-1.

Gol tersebut merupakan gol ke-101 yang Dia cetak selama dilatih oleh Ernesto Valverde. Pelatih tim Barca ini bahkan sampai mengaku kehabisan kata-kata untuk memuji anak asuh terbaiknya tersebut.
“Kami selalu tahu bahwa MEssi akan menunjukkan dirinya di setiap laga.”Ujar Valverde yang dilansir BolaSport.com dari Marca.

Pelatih kawakan ini bahkan seakan merasakan keajaiban dari setiap gerakan yang dilakukan Messi. Selalu saja ada hal menakjubkan terjadi ketika kaki megabintang sepakbola ini menyentuh bola di lapangan.

Meskipun untuk merasakan keajaiban yang diberikan Messi, Barcelona harus sedikit bersabar mengingat di awal 2019-2020 pemain andalannya ini harus mengalami perawatan akibat cedera yang cukup serius.

Keterlambatan ini membuat dirinya sedikit terhambat, begitu juga dengan clubnya. Pada masa itu Barcelona sempat mengalami sedikit kesulitan untuk tembus papan atas Liga Spanyol.
Namun begitu pemain andalannya ini kembali, Messi langsung menunjukkan kontribusi yang begitu besar dengan mencetak 4 gol pada ajang bergengsi ini. Hingga akhirnya Barcelona mampu memuncaki klasemen sementara Liga Spanyol.

Pemain kelahiran 1987 ini bahkan digadang-gadang menjadi pencetak gol terbaik sepanjang LIga Spanyol musim ini. Prestasinya ini diikuti oleh Sergio Ramos dari tim lawannya.

Sebanyak 50 gol dari free kick istimewa sudah ia kumpulkan dan mampu membuatnya jadi primadona lapangan di musim ini. Sama seperti musim-musim sebelumnya, Messi juga tak pernah berhenti begitu saja dengan jumlah gol yang sudah fantastis. Pemain asal Argentina ini selalu menggebrak gawang lawan dengan serang-serangan mematikannya.

Sayangnya prestasi gemilang Messi ini selalu saja diiringi dengan kabar kurang sedap. Kabarnya, freekick dari pemain dengan nama lengkap Lionel Andres Messi ini paling gemilang pada musim 2015-2016.

Walau begitu, banyak pihak yang menerka-nerka jika Messi akan kembali mendapatkan Ballon d’Or. Banyaknya pendukung yang menjagokan Messi salah satunya yakni karena permainan penyerang Barca ini selalu maksimal di permainannya pada musim ini.

Berbekal 4 gol yang dicetaknya pada permainan ketiga, penyerang club Barca ini diprediksi menjadi calon utama peraih Ballon d’Or dan pernyataan Diario AS ini telah dilansir BolaSport.com. Selain karena prestasinya, prediksi dari Diario AS juga diambil berdasarkan pesaingnya yang dianggap kurang maksimal pada tahun ini. Cristiano Ronaldo di clubnya JUventus masih belum menunjukkan konsistentinya.

Begitu juga dengan Virgil van Dijk yang masih mencari-cari permaina terbaiknya bersama Liverpool pada musim ini. Kedua pesaing ketatnya ini dirasa masih berada di bawah Messi dan butuh usaha ekstra untuk bisa menyamai pemain andalan Barca ini.

Jika pada musim ini Messi berhasil mendapatkan Ballon d’Or kembali, maka ia menjadi salah satu pemain terbaik yang bakal diperebutkan oleh banyak club raksasa. Bahkan belum sempat mendapatkan penghargaan ini pun Messi sudah mendapat tantangan beberapa waktu silam.

Ia ditantang untuk masuk ke Real Madrid. Menurut Hugo Gatti, Messi harus bisa sukses pada tim yang berbeda. Ia menggambarkan rivalnya, Cristian Ronaldo yang mampu menunjukkan eksistensinya pada 3 tim berbeda.

Selama 15 tahun Messi membela Barca dan mengumpulkan 34 trofi untuk Blaugrana dirasa belum cukup untuk menunjukkan dirinya berkualitas.
“Dia harus memiliki keberanian untuk pergi ke Real Madrid dan membuktikan diri seperti yang dilakukan Cristiano Ronaldo.” Kata Gatti seperti yang dikutip BolaSport.com dari Daily Star.
Namun Messi maupun Barca belum memberikan tanggapan atas tantangan ini, dan jika dilihat pun Messi masih begitu nyaman memperjuangkan klub kebanggaanya Barcelona.